Arti penting dibalik slogan kebersihan sebagian dari iman


Kebersihan sebagian dari iman, hal yang sangat sering kita dengar, kita baca di slogan-slogan, bahkan mungkin juga sering pula kita ucapkan, namun sebenarnya makna apa yang terkandung dari kalimat itu? Baiklah sedikit kita simak

Bersih besar perannya dalam islam, sampai-sampai dalam sebuah hadits :



Sesungguhnya Allah baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan, murah hati dan senang kepada kemurahan hati, dermawan dan senang dengan kedermawannan. Karena itu bersihkanlah halaman rumahmu dan jangan meniru-niru orang-orang yahudi (HR. Tirmidzi)

Kemudian diperkuat dalam firman Allah :


…dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih (QS. At-Taubah : 108)

Dari hal tersebut sangat jelas bahwa Islam sangat menganjurkan kebersihan jadi tidaklah salah slogan kebersihan sebagian dari iman. Tapi apakah hanya sebatas bersih dalam arti itu saja? Ketika menyebut iman, bersih berarti mencakup keseluruhan. Seseorang yang mengaku beriman, tentu akan benar-benar menjaga kebersihannya. Bersih lingkungannya, pakaianya, tubuhnya, fikirannya, hatinya, bahkan bukan hanya bersih melainkan suci.

Mengapa saya bilang bersih bahkan mencapai suci? Karena keduanya memiliki kaitan yang erat tapi memiliki arti yang berbeda. Bersih belum tentu suci, apakah seorang yang sehabis berhadats besar misalkan jima’ dengan istri lantas mandi bisa dibilang suci? Bersih mungkin benar karena orang mandi tentu bersih tapi apabila belum mandi besar (junub) belum bisa di katakan suci. Dan suci, belum tentu bersih, misalkan saja sajadah yang kita kenakan pastilah ada debu yang pastinya itu disebut kotor tapi bisa dikatakan suci bila tidak ada najis, tentu saja tetap yang kita harapkan bersih pula, hal ini berarti kedudukan suci dapat dikatakan utama atau lebih tinggi dari bersih

Baiklah, kembali kepada topik bahasan kebersihan sebagian dari iman. Mengapa dikatakan sebagian dari iman, seperti yang sedikit saya singgung di atas bahwa seorang yang beriman tentu bukan saja menjaga kebersihan tempatnya saja melainkan pula tubuhnya, fikirannya, bahkan hingga hatinya akan selalu dijaga kebersihannya

Bersih hati dari bersihnya rizqi

Seorang yang beriman tentu akan sangat menjaga dari mana datang makanannya (hal yang haram atau halal) dan di dapat dari mana rizqinya. Bila ada yang bertanya apa hubunganya antara makanan atau minuman dan rizqi yang di dapat? Annu’maan Ibnu Basyir berkata, aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda :


Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram juga sudah jelas, dan di antara keduanya ada hal-hal yang syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa menjauhinya, maka ia telah membersihkan agamanya dan kehormatanya dan barangsiapa memasuki syubhat, ia telah memasuki keharaman, seperti halnya penggembala yang menggembala di sekitar batas (tanahnya), tidak lama ia akan jatuh ke dalamnya. Ingatlah bahwa setiap kepemilikan ada batasnya, dan ingatlah batas Allah ialah lapangan-laranganNYA. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik seluruh tubuh akan baik jika ia rusak seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah dialah Hati

Maka bagi seorang yang beriman atau mengaku beriman, hendaknya menjaga apa yang ia makan, apakah dari jenis yang haram ataukah halal dan didapat dengan jalan yang halal atau haram, bahkan hal yang syubhat lebih baik ditinggalkan karena khawatir akan terjerumus dalam keharaman. Rizqinya bersih, yang dimakan bersih insya Allah hati akan terjaga kebersihannya pula.

Betapa seorang yang beriman akan senantiasa menjaga kebersihan hatinya dengan menjaga sumber rizqi dan sumber atau bahan makanannya, dengan hal tersebut saja tentunya ia akan menjaga fikirannya agar tetap bersih karena khawatir hatinya akan ikut ternoda dan seorang yang senantiasa menjaga hatinya tentu akan terjaga pula keimanan dalam dadanya.

Bersih badannya

Tsauban r.a berkata, Rasulullah s.a.w bersabda :


Istiqamahlah kamu, yakni tetapkan amal kebaikan yang kamu lakukan dan kamu tidak dapat menghitung berapa banyak keuntungan orang yang istiqamah, dan ketahuilah bahwa sebaik-baik amalmu ialah shalat, dan tidak akan dapat menjaga untuk selama berwudhu kecuali orang mu’min, yakni selalu berwudhu termasuk akhlak orang mu’min. Karena itu seharusnya seorang mu’min selalu berwudhu sepanjang hari, dan bila akan tidurpun harus berwudhu, sebab bila ia berbuat demikian dikasihi Allah dan Malaikat Hafadhah

Dalam hadits di atas tersebut “berwudhu termasuk akhlak orang mu’min” seorang yang beriman atau mengaku beriman hendaknya senantiasa menjaga wudhu, ini berarti menjaga benar tubuhnya tetap bersih bahkan suci dari hadats kecil maupun hadats besar, menjaga tubuhnya tetap suci terhindar dari najis berat maupun ringan

Seorang kawan baik saya mempunyai tabiat yang ringan namun mempunyai pengaruh dan makna yang dalam, yakni senantiasa membersihkan sandalnya dan membedakan sandal untuk bepergian dan ketika hendak pergi wudhu. Ketika saya tanyakan, dia berkata, “apakah kamu bisa menjamin sandal yang kamu kenakan bersih dari najis? Bukankah salah satu yang membatalkan wudhu adalah najis? Maka rajin-rajinlah membersihkannya dan memisahkan dari keduanya agar terjaga wudhumu, lupakah kamu dengan ayat watsiyaa baka fathahhir (dan pakaianmu bersihkanlah) (QS Al Muddatstsir : 4)” hal yang sangat sederhana tetapi sangat penting bahkan sering kali terlupakan.

Hal tersebut jelaslah seorang yang senantiasa menjaga wudhunya tentu akan senantiasa menjaga pula kebersihan bahkan kesucian pakaiannya, bukankah ini sebuah akhlak mu’min, sebuah akhlakul karimah?

(Yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal didalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan) (QS Thaahaa : 76)

Dari Hasan bin Athiyah berkata, Rasulullah s.a.w bersabda :


Wudhu itu sebagian dari iman, dan siwak itu sebagian dari wudhu, dan andaikan tidak khawatir memberatkan pada ummatku, niscaya aku wajibkan bersiwak tiap-tiap shalat. Dan dua rak’at yang dilakukan dengan bersiwak, lebih afdhal dari tujuh puluh rak’at yang tidak bersiwak

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan(658) dan mensucikan(659) mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui (QS At Taubah : 103)

(658)Maksudnya, zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda

(659)Maksudnya, zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka

Dari beberapa keterangan di atas, bahwa slogan kebersihan sebagian dari iman memiliki makna yang begitu dalam, yakni bukan saja bersih lingkungan, pakaian saja, melainkan meliputi kebersihan tubuh, harta, fikiran hingga hati

Sahabatku, bersihkanlah bukan hanya lingkungan saja, atau pakaian, tetapi bersihkan harta, rizqi, fikiran, dan hati kita. Bukan saja sebagai wujud keimanan kita, tetapi agar keimanan dihati kita senantiasa terjaga

2 responses to “Arti penting dibalik slogan kebersihan sebagian dari iman

Mohon kepada para alim ulama, para sarjana, para ahli dan cerdik cendekiawan untuk berkenan menambah dan membetulkan, andaikata dalam penulisan saya ini terdapat kekeliruan, kekurangan serta kekhilafan. Begitu pula saya mengharap bimbingan dan sarannya. Dalam hal ini saya sangat berterima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s