Langkah baru sang pendosa


Mngnjakkn kakinya di tpian subuh, sang pndosa hnya trdiam smbil mnghsap rokoknya dalam2, matanya sayu seolah tiada daya atas dirinya.

Menjemput adzan,

pikiranya kian membuncah. Bangkitlah ia kemudian melangkah dengan langkah kecilnya yang berat. Tanpa ia sadari, kakinya melangkah menuju tempat wudlu yang kian berkarat kemudian ia mulai berwudlu dengan fikiranya yang kian tidak menentu.

Satu sisi ia heran dan ragu-ragu, satu sisi lain ia merasakan betapa rindu ia akan hamparan sajadah yang telah lama ia tinggalkan.

Perlahan ia melangkah menuju kamarnya, dan di ambillah sajadah, sarung dan kaos seadanya. Tanpa peci mulai ia berucap dengan bergetar “Allahu akbar” rakaat demi rakaat ia lewati dengan tubuh yang gemetar. Di penghujung doa sang pendosa merasakan kian membuncah, takut akan sesuatu yang tak pernah ia tahu apa yang ia takutkan. Dan tanpa ia sadari air matanya menetes membasahi sajadahnya, lantas kembali ia bersujud tanpa ia tahu kenapa ia bersujud padahal rakaat telah terpenuhi. Satu hal yang ia tahu ketakutannya memaksa sendi-sendi tulangya dan semua organ tubuhnya untuk bersujud.

Entah telah berapa lama ia tenggelam dalam sujudnya, hingga panggilan sang bunda mengejutkan dan memaksa ia bangkit. Dalam hatinya ia enggan untuk mengahiri sujudnya, namun dalam benaknya ia tak tahu mengapa ia semakin merasa takut

Jam demi jam ia lalui hanya dengan berdiam dalam kamarnya yang pengap meski sesekali ia keluar dari kamarnya hanya karena panggilan sang ibu.

Kian lama ia terdiam menyeruak dalam hatinya rasa rindu yang luar biasa yang tidak bisa ia tahu, semakin tak ia mengerti lagi kenapa ia begitu rindu akan gema adzan. Dalam hatinya berkata, “kenapa tiba-tiba aku begitu rindu akan adzan, padahal dulu aku tak peduli sama sekali.”

Baru saja selesai ia bergumam, terdengar suara adzan. Tanpa ia sadari kakinya sudah melangkah mengambil air wudlu, dan di panggilnya putra tercintanya, di ajaknya putranya untuk berangkat ke masjid untuk shalat jumat.

Setiba di masjid seusai shalat tahaiyatul masjid, seusai khutbah, mulailah shalat jumat. Dan mulai takbiratul ihram, bergetarlah seluruh tubuhnya.

Ketika ayat terahir al-fatihah, kian tak kuasa ia menahan guncangan hebat itu. Ketika jamaah serempak mengucap “amin”, tubuhnya bergetar dengan hebat, suara jamaah laksanat badai kilat yang menyambar tubuhnya. Hingga ucapan amin sang pendosa terputus di tenggorokannya, tubuhnya seraya tiada sanggup menahan guncangan maha dahsyat hingga ia nyaris pingsan. Bibirnya kelu, tubuhnya seakan tiada bertenaga, hanya derai air matanya yang menetes kembali membasahi sajadahnya

Rakaat demi rakaat, ia lalui dengan derai air mata dan tubuhnya yang bergetar kian hebat. Hingga di ujung rakaat, ketika para jamaah telah selesai. Ia mematung tak kuasa kakinya untuk berdiri menopang tubuhnya. Dalam hati kecilnya terbesit perasaan tak ingin ia cepat-cepat mengahiri semua ini, tak ingin ia meninggalkan masjid, hingga keheningan dalam jiwanya di kejutkan denga ajakan sang putra tercinta untuk pulang karena masjid kini telah kosong, semua jamaah telah kembali ke rumahnya.

Sepanjang jalan tak hentinya ia berfikir keras dan heran. Tak mengerti ia perasaan apa sebenarnya yang ada dalam jiwanya

Bersambung

Mohon kepada para alim ulama, para sarjana, para ahli dan cerdik cendekiawan untuk berkenan menambah dan membetulkan, andaikata dalam penulisan saya ini terdapat kekeliruan, kekurangan serta kekhilafan. Begitu pula saya mengharap bimbingan dan sarannya. Dalam hal ini saya sangat berterima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s