Mimpi sang fakir | langkah baru sang pendosa


1 bulan telah lama berlalu. Fakir seorang yang dulu terkenal sebagai sang pendosa, kini hari-harinya hanya di penuhi dengan pengabdian tiada henti pada Sang Pencipta.

Di setiap malamnya seusai shalat isya, ia tambahkan beberapa shalat sunnah yang kesemuanya hingga hampir memasuki waktu subuh. Sajadah yang dulu tampak bagus dan halus, kini tampak usang karena sering kali di basahi dengan air matanya yang terus menetes membasahi sajadahnya. Di setiap doanya, hanya 2 hal yang ia mintakan. Permohonan pengampunan atas kedua orang tuanya, dan kepasrahan dirinya.

Dalam benaknya kini di penuhi dengan kepasrahan, dia kini merasa tiada layak ia meminta lebih pada Illahi, ia pasrahkan sepenuhnya pada sang pencipta. Bahkan mengharap surgapun tiada terbesit dalam benaknya, selalu hanya kepasrahan yang ada dalam benaknya.

Beberapa minggu terahir, waktu tidurnya kian tiada teratur. Ketika istrinya terbangun di tengah malam, sering ia dapati fakir tengah menangis begitu sedihnya dan nampak wajahnya begitu sedih dan ketakutan. Sering pula istrinya mendapati fakir menggigil ketakutan dan pucat wajahnya, tampak butir-butir keringat dingin mengucur di dahinya.

Suatu malam, istrinya di kejutkan oleh igau sang fakir yang tiada henti memanggil asma Allah. Di bangunkanya dengan lembut, dan bertanyalah istri tercintanya, “mimpi apakah engkau sayang, hingga engkau mengigau begitu keras, dan lihatlah keringatmu mengucur deras, wajahmu pun nampak pucat. Ceritakanlah sekiranya engkau berkenan sayang…”

Sembari meneguk segelas air putih yang di berikan istrinya, sang fakir menjawab “aku telah bermimpi hal yang sangat mengerikan. Dalam mimpi itu aku melihat bahwa aku telah mati, kemudian aku di mandikan, di kafankan, dan di shalatkan, lantas aku dimakamkan, apakah ini artinya sebentar lagi aku akan mati? Lantas bagaimana dengan dosa-dosaku, sedangkan shalatku mungkin saja belum sempurna, imanku aku saja tidak tahu seberapa tebal, aku belum sempat menebus semua dosa-dosaku” seperti orang gila, sang fakir menangis sejadi jadinya. Tanpa mempedulikan istrinya ia lari ke kamar mandi, di ambilnya wudlu dan shalatlah dia. Sang istrinya dengan mata yang sayu, sedih melihat sang fakir suaminya mengalami hal yang sulit. Selama 7 tahun pernikahan bersamanya, belum pernah ia dapati sang fakir begitu ketakutan yang luar biasa. Selama ini ia melihat suaminya seorang pemberani, sorot matanya selalu tajam, tapi kini belakangan sorot matanya begitu sayu dan selalu di liputi kegelisahan

Entah sudah berapa lama istrinya dengan setia menanti shalat sang fakir, entah berapa rakaat pula sang fakir lewati, shalat apa saja yang ia lakukan hanya Allah dan sang fakir saja yang tahu, yang pasti tiada henti air matanya menetes. Hingga adzan subuh berkumandang, sang istri dengan lembut berkata tepat di saat sang fakir salam “sayang, bukankah adzan subuh telah berkumandang? Dan apakah engkau berkenan apabila aku turut serta berjamaah?” sang fakir tidak berkata apapun, hanya anggukan kecilnya saja sebagai jawabannya

Malam berikutnya, hal yang sama terulang dengan mimpi yang berbeda namun sama menakutkan, tidak tahan memendam, sang fakir mengirim sms kepada sahabatnya yang kebetulan menjadi rekan kerjanya pula. Penuh dengan was-was, sang fakir menunggu balasan dari sahabatnya. Tidak lama berselang, ponselnya bergetar. Di bacanya sms balasan dari kawannya, nampak jelas sekali raut wajahnya guratan kebingungan. Di dalamnya tertulis bahwa ia harus senang karena Allah menunjukkan kasih sayangNYA dengan selalu mengingatkan melalui perantara mimpi tersebut. Dalam hatinya sang fakir berucap “aku adalah sang pendosa, apabila Allah mengingatkan aku dengan banyaknya mimpi menyeramkan, itu bisa saja artinya ibadahku masihlah sangat kurang. Ah cukupkah waktuku di dunia ini? Ya Allah, aku pasrahkan hidup dan matiku, hanya 1 pintaku sempatkan aku untuk bertaubat dan menebus semua dosaku yang begitu banyak. Sungguh tiada pantas bagiku meminta surgaMU karena aku terlalu kotor, namun aku pun tiada sanggup menerima azabMU yang teramat pedih. Ya Allah aku ikhlas akan segala apa yang akan Engkau beri padaku, dan yang aku mohonkan hanyalah keridhaanMU Ya Rabbirrahim”

Bersambung

Mohon kepada para alim ulama, para sarjana, para ahli dan cerdik cendekiawan untuk berkenan menambah dan membetulkan, andaikata dalam penulisan saya ini terdapat kekeliruan, kekurangan serta kekhilafan. Begitu pula saya mengharap bimbingan dan sarannya. Dalam hal ini saya sangat berterima kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s