membentuk akhlak dengan shalat


shalat

Shalat merupakan tiang agama, Ini berarti shalat merupakan soko guru utama yang bisa menegakkan rumah keselamatan kita yakni Agama Islam. Manakala shalat kita bagus, berarti soko guru tersebut kuat dan akan terhindar dari roboh / rusak. Demikian sebaliknya, jikalau kita melupakan kewajiban shalat berarti kita telah merobohkan rumah yang bisa menyelamatkan kita dari panasnya api neraka dan dahsyatnya siksa kubur. Shalat pun merupakan batasan antara muslim dan kafir, ini sesuai dengan yang tersebut dalam firman Allah yang artinya :

  • “jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui” (At-taubah : 11)
  • shalat pun adalah sebagai pendekatan diri kepada Allah, seperti dalam firman Allah yang bermaksud :

  • “Sesungguhnya Aku (Allah) ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Thaahaa : 14)

  • Shalat pun merupakan cara atau jalan untuk membentuk akhlak manusia, sebagaimana firman Allah yang artinya :

  • “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaanya dari ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan(Al ‘ankabuat : 45)”

  • Namun demikian, banyak sekali terjadi di kalangan masyarakat bahwasanya sudah shalat namun akhlak tetap belum terkendali. Sudah shalat tapi masih korupsi, mencuri walau hanya sebuah pisang, menggunjing (ghibah) yang tidak jarang mengarah kepada fitnah yang keji, berjudi, minum khamar, dan masih banyak lagi (na’udzu billah).

    Dari hal tersebut di atas hendaknyalah kita koreksi diri kita sendiri, sudah benarkah shalat kita? Baiklah, mari kita coba bersama menelaah seadikit.

    Shalat yang seharusnya mendidik, memperbaiki akhlak kita, tapi ternyata masih belum dapat menjadi rem cakram bagi akhlak kita. Lantas dimana kesalahanya? Sesuai dengan firman Allah yang artinya :

  • “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ “(Al Baqarah :45)

  • Dari kutipan firman Allah di atas tertulis dengan terang perkataan sabar dan shalat, dan khusyu’. Sesungguhnya di dalam shalat, secara tidak langsung di latih untuk bersabar. Salah satu dari rukun shalat adalah tuma’ninah. Tuma’ninah adalah berhenti sesaat, intinya shalat itu haruslah tenang. Jangan tergesa-gesa, dan bersabrlah dalam shalat. Ketika kita terbiasa tenang dan sabar dalam shalat, dan mengapresiasikan dalam hidup, maka kitapun akan bersabar dalam menghadapi ujian-ujian dari Allah. Semisal saja, ketika kita terbiasa bersabar dalam shalat, maka ketika kesulitan ekonomi datang, maka pendidikan shalat yang terus menerus tersebut akan mengalir dengan sendiri. “sabar, insya Allah besok ada rizqi jadi hari ini tak perlu aku mencuri, tak perlu aku stress yang lantas minum khamar, tak perlu aku mengejar uang di atas meja judi” demikian hendaknya yang terlintas dalam benak kita.

    Kemudian khusyu’. Bagaimana agar kita khusyu’? Mempelajari makna doa dalam shalat, memahami betul bahwa setiap gerakan kita diawasi, dalam hal ini ibadah yang disertai ihsan, sebuah hasan dikatakan cukup apabila ikhlas karena Allah, adapun selebihnya adalah kesempurnaan ihsan yang meliputi maqam muraqabah dan maqam musyahadah (insya Allah akan di bahas di posting berikutnya). Memahami makna doa, sesungguhnya doa dalam shalat mengandung pelajara, dan peringatan yang tegas, seperti salah satu dalam doa iftitah yang artinya (saya cuplik sedikit saja) :

  • “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup
    dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,”
  • Dari cuplikan di atas mengandung makna pemasrahan diri secara total. Ketika cobaan menerpa, kita pasrahkan kepada Allah, bukan lantas mabuk, mencuri, korupsi, menghasud. Ketika datang godaan, kita pasrahkan pula kembali pada Allah, dan mengingat bahwa kelak kita akan mati.

    Ikhlas, pasrah, dan bersabar adalah hal yang sulit. Namun di harapkan dengan lebih menertibkan shalat, di harapkan kita semua dapat belajar, dan sedikit-sedikit berjalan menuju akhlakul karimah.

    NB :

    Apabila terjadi kesalahan, harap pembaca memberikan sedikit masukan agar kita bersama-sama dapat belajar untuk menjadi pribadi muslim yang shalih dan shalihah

    Wassalam

    2 responses to “membentuk akhlak dengan shalat

    Mohon kepada para alim ulama, para sarjana, para ahli dan cerdik cendekiawan untuk berkenan menambah dan membetulkan, andaikata dalam penulisan saya ini terdapat kekeliruan, kekurangan serta kekhilafan. Begitu pula saya mengharap bimbingan dan sarannya. Dalam hal ini saya sangat berterima kasih

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s