Ihsan dalam beribadah | kunci khusyu’ dalm ibadah


Seperti pada pembahasan saya sebelumnya bahwasanya shalat sangatlah penting, sampai-sampai pada sebuah hadits di riwayatkan, yang mana artinya :

  • Yang pertama di pertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hampa pada hari kiamat dari amal perbuatannya adalah tentang shalatnya. Apabila shalatnya baik, maka dia beruntung dan sukses dan apabila shalatnya buruk maka dia kecewa dan merugi (HR. An-Nasaa’i dan Tirmidzi)
  • Dari hadits tersebut dengan terang dan jelas bahwasanya shalat adalah pilar penting agama islam. Namun seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya ibadah kita terutama shalat belum mampu menjadi rem cakram nafsu dalam diri kita, ternyata kunci pangkalnya ada pada kekhusyukan shalatnya, dan tentu saja amal ibadah yang di perolehpun berbeda antara yang kusyu’ dengan yang tidak.

    Shalat orang yang dari awal hingga ahir selalu khusyu’ tentu saja berbeda dengan yang khusyu’ di awalnya saja. Di sinilah kita akan coba mempelajari agar ibadah kita bisa khusyu’ terutama dalam shalat

    Dienul islam mencakup 3 hal, yaitu islam, iman dan ihsan. Islam berbicara masalah lahir, iman berbicara masalah batin, dan ihsan mencakup keduanya. Dari keterangan tersebut, ihsan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari iman, dan iman memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari islam. Tidaklah keislaman dianggap sah kecuali jika terdapat iman didalamnya, karena konsekuensi syahadat mencakup lahir dan batin. Sebuah amal di katakan hasan cukup jika di niati ikhlas karena Allah ta’ala, adapun selebihnya adalan kesempurnaan ihsan.

  • Dalam ringkasan syarah arba’in an-nawawi, syaikh shalih alu syaikh hafizhohullah, kesempurnaan ihsan meliputi 2 keadaan, yaitu maqam muraqabah dan maqam musyahadah.
  • Maqam muraqabah adalah keadaan di mana kita senantiasa merasa di awasi dan diperhatikan oleh Allah ‘azza wajjalla dalam setiap aktifitasnya, sedangkan maqam musyahadah adalah sebuah keadaan dimana kita senantiasa memperhatikan sifat-sifat Allah dan mengaitkan seluruh aktifitasnya, dalam hal ini adalah tingkatan maqam tertinggi.

    Dari hal tersebut, apabila kita senantiasa menerapkan ihsan dalam beribadah, maka kita akan sangat berhati-hati. Semisal saja dalam shalat, setiap gerakan, rukunnya, sunnatnya, terlebih wajibnya akan benar-benar kita perhatikan karena di setiap gerakan akan selalu merasa di perhatikan oleh Allah. Seperti dalam hadits yang artinya

  • Paling dekat seorang hamba kepada Rabbnya ialah ketika ia bersujud, maka perbanyaklah do’a (HR. Muslim)
  • Dan dalam salah satu firman Allah yang artinya

  • Dan melihat pula perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud (Asy Syu’araa’ : 219)
  • Dari keterangan Alqur’an dan Al hadits tersebut terang jelas bahwasanya hendaknya ibadah dan semua aktifitas kita di dasari dengan keikhlasan, dan kehati-hatian, dalam makna yang lebih tegas, ihsan dalam beribadah.

    Semoga ke depanya kita lebih meningkatkan kekhusyuan kita dalam beribadah, melengkapkan rukun dan sunnatnya, memperhatikan dalam setiap langkah yang kita ambil.

    Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu’alaikum

    Mohon kepada para alim ulama, para sarjana, para ahli dan cerdik cendekiawan untuk berkenan menambah dan membetulkan, andaikata dalam penulisan saya ini terdapat kekeliruan, kekurangan serta kekhilafan. Begitu pula saya mengharap bimbingan dan sarannya. Dalam hal ini saya sangat berterima kasih

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s