Rahasia rumah tangga sakinah


Beberapa orang di kalangan masyarakat modern beranggapan wanita merasa terjajah, tertindah dengan hukum islam yang mewajibkan seorang istri wajib taat kepada suami. Sebagian masyarakat modern mengatakan ini tidak adil, sesungguhnya tidaklah demikian adanya. Sebab hukum islam apabila di terapkan dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran tinggi justru berdampak pada kerukunan rumah tangga harmonis. Mengapa demikian? Kita akan coba buka satu per satu

Saya akan coba mengutip sedikit dari hadits Ibnu Hibban, al-bazzar, Ahmad, dan Thabrani, Albani menyatakan keshahihannya, yang artinya :

Sesungguhnya istri jika shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramdhan, menjaga kehormatannya, dan ta’at kepada suaminya, maka di persilakan masuk dari pintu yang mana saja ia suka dalam syurga

Hadits tersebut menegaskan pentingnya istri yang shalehah, sebuah syurga yang indah telah dipersiapkan baginya istri-istri yang shalehah (untuk keterangan istri shalehah bisa di baca di posting saya sebelumnya pada judul kriteria istri shalehah) bahkan dari Anas bin Malik r.a meriwayatkan :

Nabi SAW bersabda : (yang artinya) andaikan mengalir dari salah satu lubang hidung suami itu darah dan dari lubang yang lain nanah, lalu di jilati oleh istri, maka belum juga memenuhi hak suaminya

Qatadah berkata, Ka’ab berkata :

Pertama yang akan ditanya seorang perempuan pada hari qiyamat tentang shalatnya kemudian tentang kewajibannya terhadap suaminya

Kemudian Alhasan r.a berkata, Rasulullah bersabda :

Jika istri itu lari dari rumah suaminya (tanpa alasan) tidak di terima shalatnya sehingga kembali dan meletakkan tangannya pada suaminya (menyerah pada suaminya) dan berkata : Berbuatlah sesukamu terhadap diriku. Dan seorang istri jika shalat dan tidak mendo’akan suaminya, di tolak shalatnya sehingga mendo’akan suaminya

Dan Allah berfirman yang artinya :

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka, dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (QS An Nissa : 34)

Maksud ayat di atas telah terang dan jelas atas hak suami terhadap istri, dan hak istri atas suaminya. Di mana suami bertindak sebagai pemimpin yang menjaga, menafkahi, memelihara, dan mendidik istri, sedangkan istri wajiblah ta’at kepada suaminya. Dan apabila istri bertindak durhaka kepada suami, tidak lantas memukulnya atau menceraikannya. Melainkan wajib melewati tahapan-tahapan pokok yang mana pertama kali dengan nasihat, apabila masih berkelanjutan, maka barulah pisah ranjang, dan apabila masih bekelanjutan maka pukullah, dan apabila mereka (istri) telah bertaubat maka maafkanlah. Namun pukulan disini memiliki peraturan, yakni yang tidak melukai seperti hadits yang diriwayatkan dari Qatadah yang artinya :

Rasulullah bersabda : Hai sekalian manusia, sesungguhnya kamu mempunyai kamu mempunyai beberapa hak atas istrimu, dan mereka juga mempunyai beberapa hak atas kamu, dan di antara hakmu yang harus dijaga oleh istrimu, ialah menjaga tempat tidurmu, dan tidak mengizinkan seorang masuk rumahmu yang kamu tidak suka, dan tidak boleh berbuat kekejian yang terbukti, maka jika mereka melanggar berarti Allah telah menghalalkan bagi kamu untuk memukul istrimu, pukulan yang tidak melukai, sedang hak istri atas suami ialah di beri pakaian dan nafkah selayaknya

Dari hadits-hadits di atas teranglah kewajiban istri terhadap suaminya, lantas apa kewajiban suami terhadap istri? Abu Laits berkata :

Hak istri atas suami lima macam :

  • Harus mengerjakannya di dalam rumah dan jangan membiarkannya keluar, sebab wanita itu sebagai aurat, dan keluarnya di muka umum hanya akan menyebabkan dosa, dan merusak kesopanan.
  • Harus mengajarinya ilmu agama yang wajib seperti wudhu’, shalat, puasa.
  • Harus memberinya makanan yang halal sebab daging itu jika tumbuh dari haram, maka akan cair dalam api.
  • Tidak berlaku dhalim pada istri sebab ia sebagai amanat Allah.
  • Jika timbul perasaan tidak baik hendaklah sabar, sebagai peringatan baginya jangan sampai terjadi yang lebih bahaya dari apa yang telah terjadi itu.
  • Bahkan Umar r.a berkata :

    Kami memaafkan padanya, karena beberapa hak yang harus aku tanggung :

  • Karena ia menjadi dinding bagiku dari api neraka, sehingga hatiku tenang dan jauh dari yang haram
  • Ia menjadi penjaga rumahku jika aku keluar, dan penjaga hartaku
  • Ia menjadi tukang cuci pakaianku
  • Ia menjadi ibu anak-anakku
  • Ia tukang masak makananku
  • Kemudian merujuk pada firman Allah yang artinya :

    Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika (istri-istri yang sudah di talaq) itu sedang hamil, maka berikanlah mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik, dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh meyusukan (anak itu) untukya (QS Ath Thalaaq : 6)

    Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendah mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (QS An Nisaa : 19)

    Dari hadits dan ayat di atas terang jelas kita suami pun memiliki kewajiban mutlak kepada istri. Nafkah, perlindungan, pendidikan agama, kepemimpinan yang bijak adalah hak istri atas kita. Yang nantinya semua itu kelak akan kita pertanggung jawabkan di akhirat.

    Kesimpulannya, sesungguhnya islam telah memberikan hak dan kewajiban suami istri secara adil. Apabila kita merujuk pada hukum-hukum yang telah Allah tetapkan, sungguh akan indahlah sebuah rumah tangga. Saling mengerti hak dan kewajiban masing-masing, saling memaafkan, saling mengingatkan adalah dasar pokok rumah tangga yang telah Allah dan RasulNYA ajarkan kepada kita.

    Jadi ketika terjadi pernyataan istri lebih berat, atau suami lebih berat, beristihfarlah dan mohon perlindungan Allah karena sesungguhnya yang demikian adalah hasut dan tipu daya syaithan

    2 responses to “Rahasia rumah tangga sakinah

    1. besar hrpn bs dbca muslimin muslimat,
      krn mnrt pgmtn saya msh byk yg mnympg dri tuntunan,
      brgkl khilaf/blm tw tntnan yg sbnrnya.
      Dan mdh2n bs brmnfaat bwt kt smw Amin.

      • insya Allah dmikian abah, sya pun miris mlht pnympngan2 yg trjdi d klngan msyrakat qt. Budaya yg salah sdh mnjamur d klngan msyrakat luas, sdh shrusx qt smw mmprbaiki hal tsb dan mngmblikan pd ajaran Allah yg hakiki. Mohon doax abah…

    Mohon kepada para alim ulama, para sarjana, para ahli dan cerdik cendekiawan untuk berkenan menambah dan membetulkan, andaikata dalam penulisan saya ini terdapat kekeliruan, kekurangan serta kekhilafan. Begitu pula saya mengharap bimbingan dan sarannya. Dalam hal ini saya sangat berterima kasih

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s