Tanbihul Ghafilin | Ikhlas


Alfaqieh Abul-Laits berkata : Telah menerangkan kepada kami Muhammad bin Alfadhel bin Ahnaf berkata : Telah menerangkan kepada kami Muhammad bin ja’far Alkaraabisi ia berkata : Telah menerangkan kepada kami Ibrahim bin Yusuf ia berkata : Telah menerangkan kepada kami Isma’il bin Ja’far, dari Amr Maula Almuththalib dari Ashim dan Muhammad bin Labied berkata : Nabi s.a.w. telah bersabda (yang artinya) :

Yang sangat saya kuatirkan atas kamu ialah syirik yang terkecil. Sahabat bertanya : Ya Rasulullah apakah syirik yang kecil itu? Jawabnya : Riyaa’. Pada hari pembalasan kelak Allah berkata pada mereka : pergilah kamu kepada orang-orang yang dahulu kamu beramal karena mereka di dunia, lihatlah di sana kalau-kalau kamu mendapatkan kebaikan dari mereka

Riya’ ialah beramal untuk dilihat orang, dipuji, Abul Laits berkata : Dikatakan pada mereka sedemikian itu, karena amal perbuatan mereka ketika di dunia secara tipuan, maka dibalas demikian.

Firman Allah :

Yukhaa di’unnallah wahuwa khaa di’uhum

Allah membalas cara tipuan mereka itu dan membatalkan semua amal perbuatan mereki itu. Karena kamu dahulu tidak beramal untuk-Ku maka pembalasan amalmu itu tidak ada padaku, sebab tiap amal yang tidak ikhlas kepada Allah, maka tidak sampai kepadaNYA, karena itu tiap amal yang di kerjakan tidak karena Allah dan karena lainNYA, maka Allah lepas tangan daripadanya.

Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abuhurairah r.a. berkata : dari Nabi s.a.w bersabda :

Allah berfirman :

Akulah yang terkaya dari semua sekutu, Aku tidak berhajad kepada amal yang dipersekutukan yang lain-lain, maka siapa beramal lalu mempersekutukan kepada lain-lainKU, maka Aku lepas bebas dari amal itu.

Hadits ini sebagai dalil bahwa Allah tidak menerima amal, kecuali yang ihlas melulu kepadaNYA, maka jika tidak, tidak diterima, dan tidak ada pahalanya, bahkan tempatnya tetap dalam neraka jahannam, sebagaimana tersebut dalam ayat 18 Al-israa’ :

Man kana yuriidul aa-jilat ajjalna lahu fiha maa nasyaa’u liman nuridu, tsumma ja’alna lahu jahnnam yash laaha madzmuman mad chura (18) wa man aradal akhirota wa sa’a laha sa’ yaha wahuwa mu’minun, fa ulaa’ika kaana sa’yuhum masykuura (19) kullan numiddu haa ulaa’i wa haa ulaa’i min athaa’i rabbika, wama kaana athaa’u rabbika mach dzuura (20)(Siapa yang menginginkan dunia dengan amalnya, Kami berikan kepadanya dari kekayaan dunia bagi siapa Kami kehendaki kebinasaannya, kemudian Kami masukkan ia ke dalam neraka jahannam sebagai seorang terhina dan terusir jauh dari rahmat Allah (18). Dan siapa yang menginginkan akhirat dan berusaha dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, dan disertai iman, maka usaha amal mereka itulah yang terpuji (diterima). (19) Masing-masing dari dua golongan Kami beri rizqi, dan pemberian Tuhanmu tidak terhalang, baik terhadap mu’min, kafir, berbakti maupun lacur (20))

Dari ayat keterangan ini, nyatalah bahwa yang beramal karena Allah maka akan diterima sedang yang beramal tidak karena Allah tidak akan diterima dan hanya mendapat lelah dan susah semata, sebagaimana dalam hadits Abuhurairah r.a. berkata : Nabi s.a.w. bersabda (yang artinya) :

Adakalanya orang puasa dan tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus, dan ada kalanya orang bangun malam dan tidak mendapat apa-apa dari bangunnya kecuali tidak tidur semata-mata, ya’ni tidak mendapat pahala dari amalnya.

Seorang ahli hikmat berkata : Contoh orang yang beramal dengan riyaa’ atau sum’ah itu bagaikan seorang yang keluar ke pasar dan mengisi kantongnya dengan batu, sehingga orang-orang yang melihat kantongnya semua merasa kagum dan berkata : Alangkah penuhnya kantong uang orang itu, tetapi sama sekali tidak berguna baginya sebab tidak dapat dibelikan apa-apa hanya semata-mata mendapat pujian orang. Demikian pula orang yang beramal dengan riyaa’ sum’ah tidak ada pahalanya di akhirat

Firman Allah (yang artinya) :

Dan kami periksa semua amal perbuatan mereka, lalu kami jadikan debu yang berhamburan. (QS Alfurqan : 23)

Waki’ meriwayatkan dari Sufyan Atstsauri dari orang yang mendengar Mujahid berkata : Seorang datang kepada Nabi s.a.w. dan berkata : Ya Rasulullah, saya bersedekah mengharap keridhaan Allah dan ingin juga disebut dengan baik. Maka turunlah ayat yang artinya :

Faman kaana yarju liqaa a rabbihi fal ya’mal amalan shaliha, walaa yusyrik bi ibadati rabbihi achada.(Maka siapa yang benar-benar mengharap akan bertemu pada Tuhannya, maka hendaknya berbuat amal yang baik, dan jangan mempersekutukan Allah dalam semua ibadatnya dengan siapapun) (QS Alkahfi : 111)

Seorang pujangga berkata : Siapa yang berbuat tuju tanpa tuju tidak berguna perbuatannya. Siapa yang takut tanpa hati-hati, maka tidak berguna takut itu, Siapa yang mengharap tanpa amal, seperti mengharap pahala dari Allah tetapi tidak beramal, maka tidak berguna harapannya. Siapa berdo’a tanpa usaha, seperti berdo’a semoga mendapat taufiq untuk kebaikan, tetapi tidak berusaha untuk kebaikan. Siapa yang istighfar tanpa menyesal, maka tidak akan berguna istighfarnya. Siapa yang tidak menyesuaikan lahir dengan bathinnya, seperti lahirnya berbuat kebaikan tetapi hatinya tidak ikhlas. Siapa yang amal tanpa ikhlas maka tidak akan berguna amal perbuatannya.

Abuhurairah r.a berkata : Nabi bersabda (yang artinya) :

Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum (golongan) yang mencari dunia dengan menjual agama, memakai pakaian bulu domba, lidah mereka lebih manis dari madu (gula) sedang hati mereka bagaikan serigala. Allah akan berfirman pada mereka :Apakah terhadapKU mereka bermain-main dan melawan, dengan kebesaranKU Aku bersumpah akan menurunkan kepada mereka fitnah ujian bala’ sehingga seorang yang berakal tenang akan bingung

Waki’ meriwayatkan dari Sufyan dari Habib dari Abi Salih berkatat : Seorang datang kepada Nabi s.a.w dan berkata : Ya Rasulullah, saya berbuat suatu amal yang saya sembunyikan kemudian diketahui orang, maka saya merasa senang, apakah masih mendapat pahala? Jawab Nabi s.a.w : Ya, bagimu pahala rahasia dan terang

Abul-Laits berkata : Diketahui orang sehingga ditiru, maka ia mendapat pahala karena beramal dan mendapat pahala karena ditiru orang, sebagaimana sabda Nabi s.a.w :

Siapa yang memberi contoh kebaikan, maka ia mendapat pahala dan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya hingga hari qiyamat, dan siapa yang memberi contoh kejahatan maka ia mendapat dosa dan dosa orang-orang yang meniru perbuatannya hingga hari qiyamat

Abdullah bin Almubarak meriwayatkan dari Abubakar bin Maryam dari Dhamirah dari Abi Habib berkata :

Adakalanya para malaikat membawa amal seorang hamba dan mereka anggap banyak dan mereka menyanjungnya sehingga sampai ke hadirat Allah, maka Allah berfirman kepada mereka : kamu hanya mencatat amal hambaku, sedang Aku mengawasi isi dan niat hatinya, hambaku ini tidak ikhlas kepadaKU dalam amalnya, maka catatlah dalam sijjin, dan ada kalanya membawa naik amal hamba lalu mereka anggap sedikit dan kecil sehingga sampai kepada Allah, maka Allah berfirman kepada para malaikan : kamu mencatat amal perbuatan hambaKU dan Aku mengawasi isi hati dan niatnya, orang ini benar-benar ikhlas dalam amal perbuatannya kepadaKU, catatlah amalnya dalam illiyin

Dengan ini nyata bahwa amal yang sedikit dengan ikhlas lebih baik daripada yang banyak tapi tidak ikhlas, sebab amal yang diterima Allah dilipat gandakan pahalanya. Adapun yang tidak ikhlas maka tidak ada pahalanya, bahkan tempatnya neraka jahannam

Abul-Laits berkata : Saya telah diceritai oleh beberapa ulama’ dengan sanad mereka yang langsung dari Uqbah bin Muslim dari Samir Al-ash-bahi berkata : Bahwa ia ketika masuk ke kota Madinah melihat seorang yang dikerumuni orang banyak, lalu saya bertanya : Siapakah orang itu? Jawab orang-orang itu : Itu Abuhurairah r.a. Maka saya mendekat kepadanya, dan ketika bubar dan sepi orang-orang, saya bertanya kepadanya : Saya tuntut engkau demi Allah ceritakan kepadaku hadits yang telah kau dengar dan kau ingat langsung dari Rasulullah s.a.w. yang waktu itu tidak ada orang lain bersama kami, kemudian menarik nafas berat lalu pingsan, kemudian setelah sadar dan mengusap mukanya berkata : Akan saya ceritakan kepadamu hadits Rasulullbh s.a.w kemudian menarik nafas dan langsung pingsan kemudian sadar dan mengusap mukanya dan berkata : Saya akan menceritakan kepadamu hadits Rasulullah s.a.w. Kemudian berkata : Rasulullah s.a.w telah bersabda :

Apabila hari qiyamat maka Allah akan menghukum di antara semua mahluk dan semua ummat bertekuk lutut, dan pertama yang dipanggil ialah orang yang mengerti Al-qur’an, dan orang yang mati fisabilillah, dan orang kaya. Maka Allah menanya kepada orang yang pandai Al-qur’an : Tidakkah Aku telah mengajarkan kepadamu apa yang Aku trunkan kepada utusanKU? Jawab orang itu : Benar ya Tuhanku. Lalu kau berbuat apa terhadap apa yang telah kau ketahui itu? Jawabnya : Saya telah gunakan untuk membantu famili kerabat, dan bersedekah. Dijawab oleh Allah : Dusta kau, juga para malaikat berkata : Dusta engkau, kau berbuat itu hanya ingin disebut dermawan, dan sudah terkenal sedemikian. Lalu di hadapkan orang yang mati berjihad fisabilillah di tanya : Kenapa kau terbunuh? Jawabnya : Saya telah berperang untuk menegakkan agamaMU sehingga terbunuh. Allah berfirman : Dusta kau, dan malaikat juga berkata : Dusta kau, kau hanya ingin disebut pahlawan yang gagah berani dan sudah disebut sedemikian

Kemudian Nabi s.a.w memukul lututku (pahaku) sambil bersabda : Hai Abuhurairah r.a, ketiga orang itulah yang pertama-tama yang dibakar dalam api neraka pada hari qiyamat. Kemudian berita itu sampai kepada Mu’awiyah maka ia menangis dan berkata : Benar sabda Allah dan Rasulullah s.a.w. Kemudian membaca ayat yang artinya :

Siapa yang niat dengan amalnya hanya semata-mata keduniaan dan keindahannya maka Kami akan memberi kepada mereka semua amalnya, dan mereka di dunia tidak akan dikurangi (dirugikan) (15). Mereka itulah yang tidak mendapat di akhirat kecuali api neraka, dan gugur semua amal mereka itu, bahkan palsu semua perbuatan mereka itu. (16) (QS Al-Hud : 15-16)

Sebab tidak ikhlas kepada Allah, maka semua amal itu tidak berguna.

Abdullah bin Haanif Al-inthaki berkata : Pada hari qiyamat bila seseorang mengharap amalnya kepada Allah, maka dijawab : Tidakkah Kami telah membayar kontan pahalamu, tidakkah Kami telah memberi tempat padamu dalam tiap majlis, tidakkah kau telah terangkat sebagai pimpinan/ketua, tidakkah telah Kami murah (mudah)kan bagimu jual belimu (yakni sering-sering mendapat potongan harga jika membeli sesuatu) dan seterusnya

Seorang Hakim berkata : Orang yang ihlas ialah orang yang menyembunyikan perbuatan kebaikannya sebagaimana menyembunyikan kejahatannya

Pendapat yang lain : puncak ikhlas itu ialah tidak ingin pujian orang.

Dzinnun Almishri ketika di tanya : bilakah orang di ketahui bahwa ia termasuk pilihan Allah ? Jawabnya : jika telah menanggalkan istirahat, dan dapat memberikan apa yang ada, dan tidak menginginkan kedudukan, dan tidak mengharapkan pujian atau cacian orang, (yakni dipuji tidak merasa besar dan dibela tidak merasa kecil).

Ady bin Hatim Aththa’i berkata : Rasulullah s.a.w bersabda :

Pada hari kiamat kelak beberapa orang yang di perintahkan untuk di bawa ke sorga dan setelah melihat segala keindahannya serta merasakan bau harumnya maka di perintahkan untuk dijauhkan dari padanya karena mereka tidak ada bagian di dalamnya, maka kembali mereka dengan penjelasan yang tidak ada tara bandingannya, sehingga mereka berkata : Ya Tuhan andaikan Kau masukkan kami ke dalam neraka sebelum Kau perlihatkan kepada kami pahala yang Kau sediakan bagi para waliMU. Jawab Allah : sengaja Aku berbuat itu kepada kamu, kamu dahulu bila sendirian berbuat dosa-dosa besar, dan bila di muka orang-orang berlagak alim sopan dan taat, kamu hanya riyaa’, memperlihatkan kebaikan kepada manusia, dan tidak takut kepadaKu, kamu mengagungkan orang dan tidak mengagungkan Aku, maka kini Aku merasakan kepada kamu kesedihan siksaKU, di samping Aku haramkam atas kamu kebesaran pahalaKU.

Abdullah bin Abbas r.a berkata : Rasulullah s.a.w bersabda (yang artinya) :

Ketika Allah telah melengkapi jannatu aden dengan segala keindahannya yang belum dilihat oleh mata, dan terdengar oleh telinga dan tergerak dalam hati manusia, maka Allah menyuruhnya supaya berkata-kata. Maka sorga itu berkata : Qad aflahal mu’minun 3x (Sungguh untung orang yang beriman/percaya 3x). Inni haram ala kulli bakhil wa munafiq wa muraa’i. (Saya ini haram untuk dimasuki oleh tiap orang yang bakhil, dan orang munafiq dan orang yang berbuat riyaa’)

Ali bin Abi Thalib r.a berkata : Tanda orang yang riyaa’ itu empat, malas jika sendirian, dan tangkas jika di muka orang, dan menambah amalnya jika di puji, dan mengurangi jika di cela.

Syaqiq bin Ibrahim berkata : Benteng amal itu ada tiga, 1. Harus merasa bahwa itu hidayat dan taufiq dari Allah, untuk mematahkan ujub (sombong diri), 2. Harus niat untuk mendapat ridha Allah untuk mematahkan hawa nafsu, 3. Harus mengharap pahala dari Allah untuk menghilangkan rasa tamak, rakus dan riyaa’, dan dengan ketiga ini amal dapat ikhlas kepada Allah. Mengharap ridha Allah supaya tiap amal hanya melulu yang di ridhai Allah supaya tidak beramal terdorong oleh hawa nafsu, dan apabila amal itu karena mengharap pahala dari Allah, maka tidak hirau terhadap pujian atau celaan orang

Seorang hakim berkata : Untuk keselamatan suatu amal berhajat pada empat macam :

  • Ilmu pengetahuan, sebab amal tanpa ilmu, lebih banyak salahnya daripada benarnya
  • Niat, sebab tiap amal tergantung pada niatnya, sebagaimana sabda Nabi s.a.w : Sesungguhnya semua amal tergantung pada niat, dan yang dianggap bagi tiap orang apa yang ia niatkan
  • Sabar, supaya dapat melaksanakan amal itu dengan baik dan sempurna, thuma’ninah dan tidak keburu
  • Tulus ikhlas, sebab amal tidak akan diterima tanpa ikhlas
  • Haram bin Hayyam berkata : Tiada seorang yang menghadap kepada Allah dengan sepenuh hatinya, melainkan Allah akan menghadapkan hati orang-orang yang beriman sehingga kasih dan sayang kepadanya.

    Suhail bin Shalib dari ayahnya dari Abuhurairah r.a berkata :

    Nabi s.a.w bersabda : Sesungguhnya Allah bila cinta pada seseorang hamba berkata kepada Jibril : Sesungguhnya Aku kasih kepada fulan , maka kau kasih kepadanya, lalu jibril berkata kepada semua penduduk langit : sesungguhnya Tuhanmu kasih kepada fulan , maka kamu harus kasih kepadanya , setelah dikasihi oleh langit, maka di sebarkan rasa kasih di atas bumi, dan sebaliknya jika Allah murka pada seorang hamba, demikian juga adanya.

    Syaqiq bin Ibrahim ditanya : bagaimana dapat mengetahui bahwa saya seorang salih, sebab orang mengatakan bahwa saya seorang salih? Jawab Syaqiq : Pertama, Tunjukkan rahasiamu pada orang-orang salihin, maka bila mereka rela pada itu berarti kau salih. Kedua : Tawarkan dunia ini pada hatimu, maka bila ia menolak tanda bahwa kau salih, Ketiga : Tawarkan maut kepada dirimu, maka jika ia berani dan mengharap tanda bahwa kau salih. Dan bila ketiganya padamu, maka mintalah selalu kepada Allah jangan sampai memasukkan riyaa’ dalam semua amalmu supaya tidak rusak amalmu

    Tsabit Albunani dari Anas bin Malik r.a berkata : Nabi s.a.w bersabda :

    Tahukan kamu siapakah orang mu’min? Jawab sahabt : Allah dan Rasulullah yang lebih mengetahui. Sabda Nabi s.a.w : Seorang mu’min yaitu orang yang tidak mati sehingga Allah memenuhi pendengarannya dengan apa yang ia suka, dan andaikan seorang berbuat taat di dalam rumah yang berlapis tujuh puluh dan pada tiap rumah ada pintu besi, niscaya Allah akan menampakkan amal itu sehingga dibicarakan orang dan dilebih-lebihkan. Ditanya : ya Rasulullah, bagaimana di lebih-lebihkan? Jawabnya : seorang mu’min suka bila amalnya bertambah. Kemudian Nabi s.a.w bertanya : Tahukan kamu siapakah orang durhaka (fajir) ? Jawab sahabat : Allah dan Rasulullah yang lebih mengetahui. Bersabda Nabi s.a.w : Yalah orang yang tidak mati sehingga Allah memenuhi pendengarannya dengan apa yang tidak disuka, dan andaikan seorang berbuat ma’siat di dalam rumah yang berlapis tujuh puluh rumah dan masing-masing berpintu besi, niscaya Allah akan memperlihatkan pakaian amal itu sehingga dibicarakan orang dan di tambah-tambahi. Ketika di tanya : Bagaimana ditambah ya Rasulullah? Jawabnya : Seorang fajir suka apa yang menambah durhakanya

    Auf bin Abdullah berkata : Orang-orang ahli khoir satu sama lain berpesan tiga kalimat : Siapa yang beramal untuk akhirat, maka Allah akan mencukupi urusan dunianya. Dan siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia. Dan siapa yang memperbaiki hatinya maka Allah akan memperbaiki lahirnya

    Hamid Allafaf berkata : Jika Allah akan membinasakan seseorang, maka di hukum dengan tiga macam :

    1. Di berinya ilmu tanpa amal,
    2. Di berinya bersahabat dengan orang-orang salih tetapi tidak mengikuti jejak mereka, dan tidak beradab terhadap mereka,
    3. Di beri jalan untuk berbuat taat tetapi tidak ikhlas

    Abul-Laits berkata : Itu semua karena jelek niatnya dan busuk hatinya, sebab sekiranya niatnya baik niscaya di beri manfaat dalam ilmunya dan ikhlas dalam amalnya, dan menghargai kedudukan orang-orang salihin.

    Abul-Laits berkata : Saya telah diberitahu oleh orang yang dapat di percaya dengan sanadnya dari jaballah Alyahshubi berkata : Ketika kami bersama Abdul-Malik bin Marwan dalam sesuatu peperangan, tiba-tiba kami bertemu dengan seseorang yang selalu bangun malam, bahkan tidak tidur malam kecuali sebentar, selama itu kami belum kenal padanya kemudian kami ketahui bahwa ia sahabat Nabi s.a.w, lalu ia bercerita kepada kami, bahwa ada seorang bertanya :

    Ya Rasulullah, dengan cara apakah mencapai keselamatan kelak? Jawab Nabi s.a.w : Jangan menipu Allah. Orang bertanya : Bagaimana menipu Allah? Jawab Nabi s.a.w : Mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah, tidak karena Allah. Dan berhati-hatilah kamu dari riyaa’ karena itu syirik terhadap Allah, orang yang berbuat riyaa’ pada hari qiyamat akan di panggil di muka umum dengan empat nama : Hai kafir, hai orang lancung, hai penipu, hai orang yang rugi, hilang semua amalmu dan batal pahalamu, maka tidak ada bagian bagimu kini, dan mintalah pahalamu dari orang yang kamu berbuat untuk mereka wahai penipu. Saya tanya kepadanya : Demi Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia, apakah benar kau mendengar sendiri hadits ini dari Rasulullah s.a.w? Jawabnya : Demi Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia, sungguh saya telah mendengar sendiri dari Rasulullah s.a.w kecuali jika saya keliru sedikit yang tidak saya sengaja, kemudian ia membaca ayat (yang artinya) :

    Sesungguhnya orang munafiq itu akan menipu Allah padahal Allah telah membalas tipu daya mereka

    Abul-Laits berkata : Siapa yang ingin mendapat pahala amalnya di akhirat, maka harus beramal dengan ikhlas karena Allah tanpa riyaa’ kemudian melupakan amal itu supaya tidak dirusak oleh ujub (bangga diri), sebab memang menjaga taat itu lebih berat dari pada mengerjakannya

    Abubakar Alwaasithi berkata : Menjaga kebaikan taat itu lebih berat dari pada mengerjakannya, sebab ia bagaikan kaca mudah pecah dan tidak dapat ditambal, maka tiap amal yang di hinggapi riyaa’ rusak, dan tiap amal yang di hinggapi ujub rusak. Maka apabila seorang dapat menghilangkan maka jangan sampai tidak beramal karena belum dapat menghilangkan riyaa’ sebaiknya ia harus beramal kemudian membaca istighfar dari pada riyaa’nya itu, kemudian di lain hari Allah memberinya taufiq untuk ikhlas dalam amal-amal yang lain

    Dalam peribahasa ada disebut : Dunia kosong rusak sejak matinya orang-orang yang riyaa’ sebab mereka yang giat membangun dan menghias masjid, sekolah, dan pesantren,dan lain-lainnya dari pada kepentingan umum meskipun perbuatan itu riyaa’ tetapi kemungkinan ia mendapat doa-doa orang muslim yang ikhlas maka berguna baginya, sebagaimana ada cerita : Seorang membangun pondok pesantren, lalu ia berkata dalam hatinya : Saya tidak mengetahui apakah amalku ini karena Allah atau tidak? Tiba-tiba ia di beritahu dalam tidurnya : Jika amalmu tidak karena Allah, maka do’a-do’a orang muslimin di dalamnya karena Allah, maka gembiralah ia dengan impian itu

    Ada seorang berdo’a di dekat Hudzaifah bin Alyamani : Ya Allah binasakanlah orang-orang munafiq. Maka Hudzaifah berkata : Andaikan mereka semua binasa kamu tidak dapat membalas dan memukul musuh-musuhmu, sebab mereka itu ikut berjuang membunuh musuh islam

    Salman Alfarisi r.a berkata : Allah menambah kekuatan orang mu’minin dengan bantuan orang-orang munafiqin, dan menolong orang munafiqin dengan do’a orang mu’minin

    Abul-Laits berkata : Orang-orang berpendapat bahwa di dalam fardhu tidak dapat dimasuki riyaa’, sebab melakukan kewajiban, tetapi sebenarnya dapat saja riyaa’ itu masuk ke dalamnya. Di sini ada dua macam : Jika ia melakukan fardhu itu semata-mata karena riyaa’ sehingga sekiranya tidak riyaa’ tidak melakukannya maka itu munafiq seratus persen.

    Orang-orang munafiq itu dalam tingkat terbawah dalam api neraka. Sebab sekiranya tauhidnya benar-benar, tentu ia selalu melakukan fardhu yang dirasa sebagai kewajiban atas dirinya. Dan jika tetap melakukan kewajiban hanya di depan orang lebih baik dan sempurna sedang jika sendirian agak sembrono, maka ia mendapat pahala yang kurang sesuai dengan kelakuannya yang kuran, sedang kelebihan yang dilakukan di muka orang maka itu tidak ada pahalanya bahkan akan di tuntut atasnya

    Semoga kita semua di hindarkan dari riyaa’ dan ujub yang dapat menghabiskan amal ibadah kita. Dan semoga Allah senantiasa memberikan taufiq serta hidayahNYA kepada kita semua.

    Allahu akbar….Allahu akbar…Allahu akbar walilla hilhamdu

    Mohon kepada para alim ulama, para sarjana, para ahli dan cerdik cendekiawan untuk berkenan menambah dan membetulkan, andaikata dalam penulisan saya ini terdapat kekeliruan, kekurangan serta kekhilafan. Begitu pula saya mengharap bimbingan dan sarannya. Dalam hal ini saya sangat berterima kasih

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s